Gratis Humor, cerita lucu dan cerita motivasi hidup

28 November 2008

Mau jadi WNI

 

Seorang warga keturunan Cina berniat mengubah status kewarganegaraannya menjadi WNI.
Berikut ini adalah petikan tanya -jawab antara si petugas dengannya :

"Selamat pagi, Pak."

"Celamat pagi,"balasnya.

"Bapak akan menjalani pengujian akan wawasan kebangsaan. Jangan takut, pertanyaannya gampang, kok,"hibur si petugas melihat mimik si engkoh yang mengerutkan alis.
"Saya akan mulai dengan tentang sejarah" Dia mengambil gambar RA Kartini lalu bertanya: "Ini gambar siapa?"

Dengan lantang dan suara keras, dia berkata : "Hai...ya.... itu kan nyonya menil. "Wagus lo.... Owe celing minum."

Berikutnya si petugas mengetes wawasan tentang kepemerintahan dengan memperlihatkan lambang korpri.
"Ini apa, Pak?" tanyanya sambil masih mengulum senyum.

"Hai... ya.... olang pake itu seling latang ke toko Owe winta winta sumbangang".

Lalu, si petugas menunjuk kepada foto Pak Harto yang menempel di dinding sambil bertanya : "Foto siapa itu?"

"Hai....ya.... lia kan hopengnya Liem. Pintel lagang dia. Anak-anaknya luga."

Mendengar jawaban itu, si petugas menjadi sakit kepala.
"Ini pengetesan terakhir, Pak. Coba nyanyikan Lagu Indonesia Raya"

Si Engkoh langsung berdiri tegap dan bernyanyi : "Indonecia tanah ailmu..."

"Stop... stop... kenapa tanah airmu, Pak ???? tanya si petugas.

"Landa tangan wulu, balu Ngai wilang tanah ail owe !!!!

.

__,_._,___

EMPATI (By : Andy F. Noya)

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri.
Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah
jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan
besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari
itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa
bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.
Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.
Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia
dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya.
Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka.
Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.
"Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?''
Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia.
Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.
Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji,
kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah
ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.
Mulailah sekarang juga...!!!

27 November 2008

Menyadari waktu dan nilai hidup

 


Nah...didunia ini ternyata ada orang yang iseng, dia menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan untuk aktifitas kita, jika umur kita dapat mencapai 70 tahun.

Siap ya... untuk memperhatikan tabel ini, karena dari tabel ini kita dapat belajar sesuatu :

- 20 tahun untuk tidur
- 20 tahun untuk bekerja
- 7 tahun untuk bermain
- 6 tahun untuk makan
- 5 tahun untuk berpakaian
- 3 tahun untuk menunggu seseorang
- 2 1/2 tahun untuk merokok
- 2 1/2 tahun untuk terbaring sakit
- 1 1/2 tahun untuk ke Gereja
- 1 tahun untuk telepon-teleponan
- 1 tahun untuk mandi..buang air...dll
- 6 bulan untuk mengikat tali sepatu.

Paling lama adalah waktu untuk tidur dan bekerja...tidur tidak bisa ditawar lagi...kalau bekerja kita masih bisa memilih...bekerja untuk sesuatu yang kekal...atau yang sia-sia...

7 tahun untuk bermain...ini 10 % dari umur kita...bisa dikurangi menjadi 5 tahun saja...dua tahunnya bisa digunakan untuk membaca Alkitab...dan pelayanan...

6 tahun untuk makan...ini juga bisa dipercepat jika ngunyahnya dicepetin dikit...tidak banyak ngobrol waktu makan...lumayan juga kan bisa hemat 1 tahun dari sini.

5 tahun untuk berpakaian...wuaaah...ini lama buaanget...1/4 dari waktu kerja...bayangkan! sehari kerja 8 jam...waktu untuk berpakaiannya 2 jam...ini kudu dikurangi...!!! lumayan kalau bisa hemat waktu 2 tahun dari sini....bisa di pakai untuk mission trip..!

3 tahun untuk menunggu seseorang...ini pemborosan waktu karena semua memakai jam karet...jika kita semua tepat waktu...maka kita bisa menyelamatkan 3 tahun ini... bisa untuk ikutan seminar atau belajar Alkitab...

Dan yang lebih bernilai....2 1/2 untuk terbaring sakit, ini juga masih bisa di hemat...dengan cara menjaga kesehatan kita...misalnya...kalau tidur pakailah baju tidur...biar ngga masuk angin....

6 bulan untuk mengikat tali sepatu...bisa dihemat...pakailah sepatu yang tidak ada talinya.

.

__,_._,___

Gaji Orang Eropa Vs Indonesia

Satu orang Eropa dan satunya, sudah tentu orang Indonesia .
Orang Indonesia bertanya pada orang Eropa,
'Berapa gajimu dan untuk apa saja uang sejumlah itu?'

Orang Eropa menjawab,
'Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk
makan,
500 Euro untuk hiburan.'
'Lalu sisa 500 Euro untuk apa?', tanya orang Indonesia.
Orang Eropa menjawab secara ketus,
'Oh.. itu urusan saya, Anda tidak berhak bertanya!'

Kemudian orang Eropa berbalik bertanya.
'Kalau anda bagaimana?'
'Gaji saya Rp 950 ribu, Rp 450 ribu untuk tempat tinggal, Rp 350 ribu untuk
makan,
Rp 250 ribu untuk transport, Rp 200 ribu untuk sekolah anak, Rp 200 ribu
untuk
bayar cicilan pinjaman, Rp100 ribu untuk...'.

Penjelasan orang Indonesia terhenti karena orang Eropa menyetop penjelasan
itu dan
langsung bertanya.
'Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda. Sisanya dari mana?', kata
orang Eropa
itu keheranan.
Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng,

'Begini Mister, tentang uang yang kurang, itu urusan saya, anda
tidak berhak bertanya-tanya,'.



 
.

__,_._,___