Gratis Humor, cerita lucu dan cerita motivasi hidup

18 Juni 2009

Singkat Cerita Kereta Jakarta-Cirebon

Dalam perjalanan kereta Cirebon Express dari Gambir ke Cirebon, duduk berhadapan 4 orang penumpang :
* Satu nenek
* Satu artis cantik plus sexy
* Satu mahasiswa
* Satu jaksa

Perjalanan nyaman2 saja, ketika masuk ke terowongan tiba2 lampu mendadak mati pula. Gelap gulita. Tiba-tiba terdengar suara kecupan yang keras..."Cap, cip, cup! ".
Namun segera diikuti satu suara tamparan yang tidak kalah kerasnya... "Plak, Plek, plak, Gedubrak!!!"

Ketika terowongan itu akhirnya terlewati, keempat penumpang itu saling bengong dan saling memandang, dan masing2 berkata di dalam hati.

Sang nenek dalam hati :
"Dasar anak mahasiswa muda, mentang-mentang tempat gelap langsung aja cium artis cantik itu. Rasain loe kena gaplok !!!

Si Artis cantik dan sexy dalam hati nya :
"Biar rasa loe !!! gelap-gelap asal cium, kena deh loe cium nenek itu, dan kena gaplokan juga lagi.! hihihi.."

Si Jaksa dalam hati :
"Busyet dah, enak bener tuh mahasiswa. Dia yang nyium
cewek sexy, eh gua yang kena gaplok !! "

Si mahasiswa itu berkata dalam hati :
"He.. he.. mumpung gelap, tadi gua cium aja tangan gua sendiri, dan gua gaplok sekalian itu Jaksa belagu dan bikin orang gampang masuk penjara. Kapan lagi mahasiswa bisa gampar Jaksa. Di pengadilan kan.. ya nggak mungkin !!!... "
.

Temukan Kuncinya, Lalu Buka Peti Harta Karunnya


 
Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan sangat mudah, padahal Anda sendiri tidak bisa melakukannya? Saya sering begitu.  Misalnya, saya tidak bisa bermain selancar air dipantai, tapi mengapa banyak orang yang bisa melakukannya. Ini hanyalah contoh kecil saja yang membuktikan bahwa ternyata; ada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, karena boleh jadi, kita bisa melakukan sesuatu yang menurut orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Sehingga, ini semakin menegaskan kenyataan bahwa kita para manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi, bukankah kadang-kadang kita harus melakukan sesuatu yang sangat sulit itu untuk memenuhi keinginan kita? Buktinya, ada banyak keinginan dan angan-angan yang tidak bisa kita wujudkan. Sehingga kita sering menjadi frustrasi dibuatnya. Lantas, bagaimana kita bisa berkompromi dengannya?
 
Beberapa waktu lalu, saya menjadi sangat pusing karena kehilangan kunci lemari tempat saya menyimpan peralatan dan dokumen untuk mendukung aktivitas harian. Anak saya yang masih sangat kecil memain-mainkan kunci lemari itu sebelumnya, sehingga saya yakin dia menyimpannya disuatu tempat. Sayangnya, sekuat apapun saya berusaha untuk membuatnya ingat atau memberitahu keberadaan kunci-kunci itu; saya tetap gagal total. Padahal tanpa kunci itu, 'saya tidak bisa membuka' lemari itu. Sehingga saya tidak dapat memperoleh apapun yang tersimpan didalamnya.
 
Bayangkan seandainya lemari itu seperti peti harta karun. Tanpa kunci itu, dia tidak bisa dibuka. Bayangkan lemari terkunci itu seperti tempat asing yang berisi angan-angan yang kita inginkan. Tanpa kunci itu, kita tidak dapat meraih isinya. Lalu, kita mengatakan;  "betapa sulitnya mewujudkan keinginan ini....." Mungkin kita berpikir untuk membongkar paksa pintu lemari itu dengan menggunakan gergaji atau kampak. Jika isi lemari itu sedemikian pentingnya, mengapa mesti pusing dengan lemarinya? Hancurkan saja. Masalahnya, kita tidak tahu bagaimana menghancurkan 'lemari kehidupan' yang menyimpan semua impian kita. Karena, tidak ada cara lain untuk meraih isinya kecuali dengan kunci untuk membuka pintunya.
 
Dilaci meja kerja saya ada seuntai kunci. Saya tahu bahwa kunci lemari yang menghilang itu tidak termasuk salah satunya. Namun, rasa putus asa mendorong saya untuk mencoba semua kunci itu. Dan tentu saja gagal. Persis seperti hidup kita. Untuk meraih apa yang kita inginkan itu ada kuncinya. Dan kunci itu sangat spesifik sehingga kita tidak bisa menggunakan sembarang kunci untuk membukanya. Mungkin, itulah penyebabnya mengapa segala usaha dan daya upaya yang kita lakukan selama ini tidak kunjung memberikan hasil yang diharapkan. Mungkin karena kita belum melakukannya dengan 'kunci' yang tepat. Sehingga, sekeras apapun usaha yang kita lakukan, kita masih gagal maning, dan kemudian gagal maning.
 
Siang sudah berganti malam. Dan anak saya belum juga membocorkan rahasia tentang kunci itu. Sementara saya sudah semakin putus asa karena kunci itu tidak ada di kotak mainannya, tidak pula di celengan, ataupun tempat paling tersembunyi di rumah pondokan kami. Lalu, saya menyerah dihadapan anak kecil yang sekarang sudah tertidur pulas tanpa beban itu. Karenanya, saya memutuskan untuk rehat barang sesaat. Sebab, tidak mungkin membangunkan anak kecil hanya untuk memaksanya mengingat 'dimana dia menyimpan kunci lemari ayahnya'. Mungkin, ini saat yang tepat bagi saya untuk beristirahat setelah menjalani hari yang penat, agar besok bisa meneruskan pencarian itu dengan penuh semangat. Duh, kehidupan kita juga sering begitu. Kita sedang membutuhkan kunci yang mampu memberi akses untuk masuk atau menemukan sebuah jalan keluar. Namun, kunci itu sering tersembunyi entah dimana. Mungkin, ini saat yang tepat bagi kita untuk jeda sesaat, tanpa kehilangan hasrat
untuk meneruskan perjuangan ini esok hari.
 
Esoknya pagi-pagi sekali, saya menanti si kecil untuk bangun dengan penuh harap. Dan begitu dia menggeliat; saya memeluknya sambil bertanya;'kunci lemari ayah pergi kemana ya?'  Lalu, dia menjawab;"Sudah basah....."
 
"Sudah basah?" saya benar-benar menjadi orang pilon. "Kamu ngompol ya?" ternyata celananya tidak basah. "Apanya yang sudah basah?" Saya bertanya dalam harapan dan kebodohan.
 
"Kuncinya sudah basah," katanya.
Hah?! Kuncinya sudah basah?  Apa maksudnya? Apakah kunci lemari saya dicemplungkan kedalam sumur? Atau masuk kedalam mangkuk sayur ibunya? Atau..... ah, lebih baik ditanya saja. "Basah kenapa?"
 
"Sudah kecebur kolam...."  Glek, kunci lemari saya kecebur kolam.... Tapi kolam yang mana? Akhirnya dengan putus asa saya memintanya menunjukkan tempat 'keceburnya' kunci lemari itu. Lalu dia menuntun tangan saya, menuju kehalaman depan. Kemudian, dia menunjuk vas bunga berisi tanaman air kami. "Dikolam itu," katanya. Dan saya benar-benar menemukannya disana. Dengan kunci itu, saya bisa membuka lemari dengan teramat mudah. Lalu, saya mendapatkan semua benda yang saya butuhkan.
 
Jangan-jangan, hidup kita juga seperti itu ya. Setelah semua usaha yang kita lakukan selalu membawa kegagalan; mungkin yang kita perlukan adalah 'menemukan kuncinya'. Sehingga dengan kunci itu kita bisa membuka ruang rahasia dimana keberhasilan kita tersimpan. Sedangkan anak kecil itu bagaikan malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menyimpan kunci-kunci kehidupan yang kita butuhkan. Malaikat itu tidak memberi kita kunci sampai kita telah benar-benar mengerahkan segala kemampuan dan daya upaya yang kita miliki. Dan ketika kita sudah mengerahkan seluruh kemampuan itu hingga titik paling akhir, barulah dia memberi tahu kita kuncinya. Dan kunci itu, sering berupa 'pengetahuan' mengenai bagaimana membuka ruang tertutup dinding yang membatasi kita dengan keberhasilan.
 
Adalah tugas malaikat untuk menjaga kunci-kunci itu. Dan adalah tugas kita untuk menunjukkan kesungguhan dan dedikasi agar dipercaya untuk mendapatkannya. Sehingga, ketika Sang Pembuat Keputusan mengetahui bahwa kita bersungguh-sungguh; Dia Yang Maha Sempurna kemudian bersabda kepada para malaikat;"Aku sudah melihat kesungguhannya. Maka bantulah dia, dan berikan kunci-kunci itu kepadanya."
Semoga.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Learning Facilitator IFSHA Strategic
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 

12 Juni 2009

6 Hal Jangan Dilakukan Ketika Tidur

 
 



Manusia dapat bertahan 2 minggu tanpa makan, tetapi hanya bertahan 1 minggu saja tanpa istirahat. Tidur adalah waktu istirahat yang sangat baik, dengan tidur organ tubuh kita dapat beristirahat. Kekurangan tidur dapat merusak organ dan otak kita.

Ada 6 larangan dalam tidur:

1. JANGAN TIDUR MENGENAKAN JAM TANGAN. Jam bisa menimbulkan radioaktif, walaupun hanya sedikit, tapi kalau terlalu lama memakainya bisa berbahaya.

2. JANGAN TIDUR MEMAKAI BH. Para ilmuwan di Amerika mensinyalir bahwa pemakain BH diatas 12 jam, dapat mengakibatkan Kanker Payudara.

3. JANGAN TIDUR MEMBAWA TELP ANDA KE RANJANG. Gelombang Medan magnet yang ditimbulkan oleh alat electronik ini, dapat merusak system syaraf kita.

4. JANGAN TIDUR MASIH MENGENAKAN MAKE-UP. Hal ini dapat menimbulkan masalah pada kulit kita, karena kulit tidak dapat bernafas.

5. JANGAN TIDUR DGN ISTRI/SUAMI ORANG. Jangan2 anda tidak bakalan bangun lagi (karena dibunuh suami/istrinya)

6. JANGAN COBA-COBA JADI POLISI TIDUR, APALAGI DI JALAN TOL. Pikir aja sendiri, kenapa jangan, hah…hah…

.

__,_._,___

Sebuah perjuangan terbesar

Sebuah perjuangan terbesar
Oleh: Arvan Pradiansyah,
pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!
e-mail:
kepemimpinan@ republika. co.id
faksimile: 021-7983623

Dua orang lelaki yang datang
bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si
orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember
kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran.
Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya,
''Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?''

Orang bijak menjawab, ''Tadi
aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku
memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka.
Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun,
setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat.
Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan
ini untuk membunuh perasaan sombongku itu.''

Para pembaca yang budiman,
sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua yang
benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah,
sombong sering disebabkan karena faktor materi. Kita merasa lebih
kaya, lebih cantik, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong
sering disebabkan faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih
kompeten, lebih bijaksana dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.

Di tingkat ketiga, sombong
sering disebabkan faktor kebaikan. Kita seringkali menganggap diri
kita lebih berakhlak, lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi
tingkat kesombongan ini, semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi akan sangat mudah terlihat tetapi sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi
karena seringkali hanya berbentuk benih-benih yang halus di dalam
hati kita.

Akar dari kesombongan ini
adalah ego yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Pada tataran
yang wajar, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri
(self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Namun, begitu
kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada
sangat dekat dengan kesombongan. Bahkan, seringkali batas antara
bangga dan sombong tak terlalu jelas.

Diri kita sebenarnya terdiri
atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan diri sejati di lain
kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita sepenuhnya berada dalam
kutub diri sejati, kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak punya
apa-apa. Kita sama sekali bebas dari materi apapun. Tetapi, seiring
dengan berjalannya waktu, kita mulai memiliki berbagai kebutuhan
materi. Bahkan, lebih dari sekedar yang kita butuhkan dalam hidup,
kelima indra kita selalu mengatakan bahwa kita membutuhkan yang lebih
banyak lagi.

Perjalanan hidup seringkali
mengantarkan kita menuju kutub ego. Perjalanan inilah yang
memperkenalkan kita kepada kesombongan, kerakusan, serta iri dan
dengki. Ketiga sifat ini adalah akar segala permasalahan yang terjadi
dalam sejarah umat manusia.

Perjuangan melawan
kesombongan sebenarnya adalah perjuangan menarik diri kita ke kutub
diri sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya
ada dua perubahan paradigma yang perlu Anda lakukan. Pertama, Anda
perlu menyadari bahwa hakikat manusia adalah diri sejati, kita
bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual.

Diri sejati kita adalah
spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah syarat kita untuk hidup
di dunia. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan kita mati pun tanpa
membawa apa-apa. Pandangan seperti ini akan membuat Anda melihat
siapapun sebagai manusia yang sama. Anda tidak akan lagi tertipu oleh
penampilan, kecantikan, dan segala ''tampak luar'' yang lain. Yang
kini Anda lihat adalah ''tampak dalam.'' Pandangan seperti ini sudah
pasti akan menjauhkan Anda dari berbagai kesombongan.

Kedua, Anda perlu menyadari
bahwa apapun perbuatan baik yang Anda lakukan, semuanya itu
semata-mata adalah untuk diri Anda sendiri. Anda menolong orang untuk
kebaikan Anda sendiri. Anda memberikan sesuatu kepada orang lain
adalah untuk Anda sendiri.

Dalam hidup ini berlaku
hukum kekekalan energi: Energi yang Anda berikan kepada dunia tak
akan pernah hilang. Energi itu akan kembali kepada Anda dalam bentuk
yang lain. Kebaikan yang Anda lakukan pasti akan kembali kepada Anda
dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun
kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik pada orang
lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apalagi yang harus kita sombongkan?

Perjalanan menuju
kepemimpinan senantiasa dimulai dengan mengalahkan ego dan
kesombongan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ujiannya adalah
pada pemilu kali ini. Para ''reformis'' yang mengklaim dirinya layak
menjadi presiden sudah saatnya duduk bersama dan mengalahkan egonya
masing-masing. Tanpa mengalahkan ego ini, mustahil mereka bisa
menang. Kalau ini yang terjadi, jangan-jangan bangsa kita akan
kembali dipimpin orang-orang yang tidak amanah dan hanya mementingkan
dirinya sendiri.

Kita Masih Diberi Waktu

Apakah makna pergantian
tahun bagi Anda? Bagaimana pula cara yang biasa Anda lakukan untuk
menyambut datangnya tahun baru? Pertanyaan-pertanya an inilah yang
senantiasa muncul di kepala saya setiap menghadapi pergantian tahun.
Ini memang pertanyaan penting yang amat perlu kita renungkan.

Pertanyaan mengenai makna
mungkin agak sulit dijawab langsung. Anda perlu meluangkan waktu
sebentar untuk merenungkannya. Sebaliknya pertanyaan mengenai cara
sangat mudah dijawab. Pada dasarnya ada dua cara yang dilakukan orang
menyambut tahun baru. Pertama, dengan bergembira dan berpesta, mulai
dari pesta rakyat sampai dengan perhelatan di hotel-hotel berbintang.
Kedua, dengan merenung, baik yang dilakukan sendirian maupun
bersama-sama dalam satu forum. Kedua cara ini didasari oleh dua
pandangan yang berbeda dalam melihat dunia.

Orang yang merayakan tahun
baru dengan berpesta mungkin memandang hidup ini sebagai sebuah garis
lurus atau sebuah tangga. Dengan demikian pergantian tahun dipandang
sebagai umur yang bertambah, sebagai sebuah pencapaian yang patut
dirayakan, sama seperti halnya merayakan ulang tahun kita. Ini
tentunya berbeda dengan mereka yang menyambut tahun baru dengan
renungan. Bagi mereka hidup adalah sebuah lingkaran.

Mengapa demikian? Marilah
kita lihat. Kehidupan ini adalah laksana sebuah perjalanan. Kita
memulainya dari satu titik, dan kita akan mengakhiri perjalanan kita
persis di titik yang sama. Dalam bahasa agama dikatakan bahwa kita
berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepada Tuhan.

Dahulu kita tidak ada dan
nantinya juga tidak ada lagi. Kita memulai perjalanan kita dalam
keadaan telanjang dan tidak memiliki apa-apa. Kita pun akan
mengakhiri perjalanan kita dengan cara yang sama.

Coba renungkan sebentar
analogi di atas. Kalau demikian, begitu Anda memulai perjalanan
sebetulnya Anda sedang berjalan untuk kembali ke titik awal. Dalam
sebuah lingkaran, pertambahan senantiasa berarti pengurangan. Semakin
umur Anda bertambah, semakin pendeklah umur Anda dan semakin dekatlah
Anda pada ketiadaan.

Panjang pendeknya umur
seseorang hanyalah ditentukan oleh besar kecilnya lingkaran. Semakin
besar lingkaran tersebut semakin lamalah perjalanan yang akan Anda
tempuh, sebaliknya semakin kecil lingkaran, semakin pendeklah
perjalanan Anda.

Nah, kalau demikian,
pergantian tahun hanyalah berarti satu hal: Anda sudah semakin dekat
dengan kematian. Karena itu, Anda harus waspada. Bergembira tentunya
boleh-boleh saja. Namun, seringkali kegembiraan membuat kita lupa dan
terlena.

Masalahnya, kita tak pernah
tahu berapa besar lingkaran yang kita miliki. Kita tak tahu berapa
lama lagi kita akan kembali ke titik awal. Kita tak tahu kapan
''kontrak;'' kita habis. Tidak ada tanda-tanda yang jelas untuk itu.
Orang muda yang segar bugar bisa dipanggil secara mendadak. Orang
yang sedang berada di puncak karier sekonyong-konyong bisa berpulang
kepada Tuhan. Semuanya terjadi secara mengejutkan dan tiba-tiba.

Sebetulnya kalau kita mau
merenungkan hidup ini secara lebih dalam, ada tanda-tanda yang bisa
mengingatkan kita pada hal ini. Itulah yang terjadi pada saat kita
tidur. Tidur itu adalah saudaranya mati. Bukankah kondisi orang yang
tidur persis sama seperti orang mati? Kita tak bisa berkata apa-apa.
Telinga kita terbuka lebar tapi kita tak bisa mendengar. Posisi
kitapun tak jauh beda dengan orang yang mati.

Karena itulah kita perlu
berdoa sebelum tidur agar kita tidur dalam kebaikan dan rahmat Tuhan.
Begitu kita terbangun di pagi hari kita pun perlu mengucapkan syukur
kepada Tuhan yang memberikan lagi satu hari yang indah untuk kita
nikmati. Demikianlah cara kita hidup dari hari ke hari. Tiap hari
kita sebenarnya melalui sebuah proses yang berulang-ulang. Pagi-pagi
kita hidup, beraktivitas, dan malamnya kembali ''mati.'' Sampai pada
suatu saat nanti kita akan tidur untuk selama-lamanya.

Kalau Anda berpikir
demikian, Anda tak akan pernah melewatkan waktu Anda dengan
berhura-hura. Anda pun akan menjauhi kemarahan dan permusuhan. Hidup
memang cuma sebentar, karena itu mari kita manfaatkan waktu kita
bersama orang-orang yang kita cintai. Setiap kali bertemu dan
berpisah dengan siapapun, kita selalu akan memastikan bahwa kita
telah memberikan yang terbaik, sebab siapa tahu itu adalah pertemuan
kita yang terakhir.

Hidup adalah anugerah karena
itu marilah kita isi dengan kebaikan dan cinta kasih. Saya ingin
menutup tulisan ini dengan sebuah lagu inspiratif dari Ebiet G Ade:
''Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu/ Entah sampai
kapan tak ada yang bakal dapat menghitung/ Hanya atas kasihNya hanya
atas kehendakNya, kita masih bertemu matahari/ Kepada rumpun ilalang,
kepada bintang gemintang/ Kita dapat mencoba meminjam catatannya.' '

''Sampai kapankah gerangan,
waktu yang masih tersisa/ Semuanya menggeleng, semuanya terdiam/
Semuanya menjawab tak mengerti/ Yang terbaik hanyalah segeralah
bersujud/ Mumpung kita masih diberi waktu.''.

Oleh: Arvan Pradiansyah,
pengamat masalah kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!
e-mail: kepemimpinan@ republika. co.id faksimile: 021-7983623


"...Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku..
dengan perlahan ataupun berlari, berhenti dan duduklah diam..
pandanglah
ke atas.. 'Dia' sedang melukis pelangi untukmu.."